Custom Search

Tuesday, April 29, 2008

Pameran INDONESIA PORTRAITS Indra Leonardi

Berbagi Jiwa Indra Leonardi
Sumber Koran SINDO/Minggu, 25/03/2007
Dua buah foto tangan kanan milik pebulutangkis legendaris Rudy Hartono terpampang di dinding dekat sebuah pintu di ruang pameran Galeri Nasional Jakarta.
Yang satu (terpampang di dinding bagian kanan pintu) dalam posisi mengepal sedangkan yang lainnya (sebelah kiri pintu) dalam posisi membuka jari jemari. Seakan, kelima jari sang jawara sedang melambai-lambai. Kedua fotografi tangan kanan Rudy ini dicetak hitamputih dalam ukuran cukup besar. Tertulis komentar pendek pada secarik kertas yang menempel di bagian bawah foto: ’Rudy’s hands proved to be the most important part in his career’.
Sementara fotografi sosok Rudy–yang juga dalam ukuran besar-- tepat berada di dinding belakang (dalam ruangan berbeda) kedua fotografi tangan kanannya. Jadi, tampak sosok wajah Rudy berada di antara kedua fotografi tangannya.Fotografi Rudy, satu dari ratusan fotografi tokoh Indonesia yang dipampang dalam pameran fotografi bertajuk ”Indonesian Portraits”karya Indra Leonardi, yang digelar di Galeri Nasional dari 24 Maret – 1 April 2007. Melalui komentar pendek dan fotografi tangan kanan itu sendiri, Indra ingin mengajak orang melihat pribadi sang jawara.Melalui tangan yang terkepal itu, Indra memperkenalkan Rudy sebagai pribadi yang ulet dan telaten.
Dengan kebulatan tekad dan daya juang tinggi –seperti disimbolkan tangan yang mengepal itu– Rudy meraih kesuksesan sebagai pebulutangkis yang menoreh sejarah dunia dan mengharumkan Indonesia dengan tercatat sebagai juara All England delapan kali. Tapi,tentu kebahagiaan atas kemenangan itu,Rudy rasakan sebagai kebahagiaan sebuah bangsa. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada khalayak lewat tangannya yang melambai- lambai. Fotografi yang sangat personal itu menjadi ciri khas dalam karya fotografer Indra Leonardi. Karyanya selalu mengajak orang untuk menatap lebih jauh ke dalam pribadi seseorang.
Dia tidak membiarkan penyimak karyanya berhenti pada gambar itu sendiri, tapi lebih jauh berdialog, bahkan menangkap karakternya. Ratusan karyanya yang dipamerkan saat ini menyingkap sisi-sisi terdalam dari tokoh-tokoh yang dia potret. Ratusan tokoh, baik di bidang hiburan, politik, budaya, olahraga, serta profesi lainnya, dia rekam secara personal. Sebut saja beberapa foto yang dipajang di dinding pamer Galeri Nasional antara lain foto diri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan fotografi Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono.
Ada juga foto diri sastrawan Pramoedya Ananta Toer (almarhum)dan budayawan Goenawan Mohammad bertelanjang dada. Dari tokoh olahraga, terdapat foto juara dunia tinju Chris John, pembulutangkis Taufik Hidayat, petenis Angelique Wijaya, serta mantan Ketua KONI Agum Gumelar. Dari dunia hiburan, Indra memotret sutradara Garin Nugroho dan promotor musik Adrie Subono. Menurut Indra, penggalian karakter itu tidak selamanya mudah. Untuk memotret Ibu Negara, misalnya, Indra harus beberapa kali berkeliling Istana Negara mencari tempat yang sesuai bagi karakter anggun First Lady. Hasilnya adalah sebuah ruang bernuansa emas yang kontras dengan kebaya hijau toskah yang dikenakan sang Ibu Negara.
Sementara untuk tokoh yang cukup gampang difoto, Indra menyebut nama monolog Butet Kartaredjasa yang sudah lama diincarnya untuk difoto.”Orangnya ekspresif,kita fotografer dapat merasa beruntung untuk dapat model seperti dia. Nggak usah disuruh ke sana ke sini, si Butet sudah cukup ekspresif, bergerak-gerak dan tinggal diklik,” kata Indra di sela pembukaan pameran,Jumat (23/3). Pameran ”Indonesian Portraits” adalah hasil karya Indra dalam rentang waktu 15 tahun. Pembukaan pameran itu sekaligus merupakan acara peluncuran buku fotografi berjudul sama yang menyajikan lebih dari 100 foto tokoh masyarakat mulai dari artis,penyanyi,maupun politisi. Proses pengumpulan hasil karya yang kemudian dibukukan Indra itu relatif lama karena dalam tiap foto Indra mencoba mengeluarkan karakter dari tokoh yang bersangkutan.
Untuk menghasilkan karya fotografi yang sungguh-sungguh mewakili pribadi seseorang, dibutuhkan ketekunan dan interaksi yang terus menerus. Lebih dari itu,keterbukaan diri terhadap orang lain menjadi hal yang penting. ”Saya selalu menyerahkan jiwa saya sebelum mencoba untuk menggali jiwa seseorang dihadirkan dalam fotografi yang saya buat. Sebab, fotografi memang suatu pendekatan yang personal. Dalam interaksi, saya selalu yakin untuk berbagi jiwa antara fotografer dan subjek fotografi,” tutur Indra. Interaksi yang intens, bertukar cerita, bersenda-gurau, berdiskusi dengan subjek fotografi, kata dia, selalu menjadi suatu hal yang dinikmati.
Keberhasilan Indra, kata M Firman Ichsan dan Oscar Motuloh dalam komentar kuratorial, terletak pada pendekatannya yang sangat personal. Untuk mendapat kedalaman pada subjek,Indra lebih mengutamakan pertimbangan psikologis ketimbang estetika. Sebelum memotret tokoh –tanpa pretensi dan ambisi sosial politik-- Indra berupaya menangkap karakter seorang tokoh, mendengar, dan melakukan pendekatan psikologis. Prosesnya, mula-mula mendengarkan subjek bicara, memerhatikan ekspresi mereka, danmerekamdalamingatan.Kemudian, mengingat-ingat momen ekspresi yang pernah dilihat. Setelah mendapatkan bayangan akan latar belakang, sudut pandang dan suasana yang patut bagi subjek, lantas coba ditambahkan unsur-unsur properti guna membangun situasi agar subjek tampil maksimal. ”Kemudian pada sesi pemotretan, mengajak subjek menghadirkan kesan yang pernah ditangkap, yakni lengkap dengan latar, dekorasi, koordinasi warna serta pencahayaan yang telah ditata untuk mencapai totalitas yang diinginkan,” tutur mereka. Keduanya menyebut, kerja serta karya Indra sebagai ”memindahkan tiga dimensi menjadi dua dimensi adalah perihal teknis. Namun, ada dimensi keempat yang berperan, yaitu
cerita di balik pembuatan foto (the story behind the picture)... dan fotografi akan menjadi teknis saja bila dikerjakan tanpa emosi.”(donatus nador/ant)

No comments: